Bisnis Masa Kipan

#BBCNote2

Sejak 2015, ketika kali pertama saya melakukan “Big Tech Safari” (kunjungi perusahaan-perusahaan teknologi besar di Silicon Valley), saya tertarik untuk tau akan 1 hal. Saya selalu nanya ke host yg menerima saya di Google, Apple, Twitter, Uber, Facebook, Instagram: “Gimana kerja di sini? Apakah ada sistem absensi? Gimana cara atasan mensupervisi kerjaan timnya? KPInya akan dibuat setiap hari? Apakah setiap hari tim harus bikin laporan? Apakah harus ngantor?”

Sejak saat itupula, saya pengen banget menerapkan sistem kerja seperti perusahaan-perusahaan teknologi besar itu. Bulan Oktober 2018, saya whatsapp CEO Microsoft Indonesia, mas Haris Izmee, dan menanyakan hal yang sama. Dan semua keinginan saya utk menjalankan “Kerja Dari Mana Aja” akhirnya menjadi kenyataan karena pandemi Covid19. Istilah “WFH” pun sudah akrab di telinga kita, karena mayoritas dari kita sudah dipaksa untuk ini.

Untuk bisnis, apa artinya? Saya ngga perlu jelaskan apa-apa saja bisnis yang turun salesnya, atau bahkan hancur salesnya. Detik ini note ini ditulis, mayoritas pengusaha sedang galau. Ngga ada satupun orang yang tahu kapan virus ini akan hilang dari muka bumi. PHK sudah banyak banget, dan bukan hanya di Indonesia. Di Amerika dalam 1 bulan terakhir sudah ada tambahan pengangguran sebanyak 17 juta orang!

Jadi, untuk para pebisnis harus gimana? Dunia sudah mulai berubah karena pandemi ini. Kalau kamu adalah karyawan, ambil intisari dari yang saya sharing di sini ya, kali aja kamu bisa dapet opportunity kerja baru atau malah banting setir jadi entrepreneur.

Bisnis Masa Kini-Depan (Kipan) yang cemerlang:

  1. Bisnis yang fokusnya digital atau yang menggunakan teknologi sebagai basis jualannya. Di era sosmed booming, semua perusahaan ngerasa bahwa kalau sudah punya akun facebook, instagram, twitter,.. perusahaannya sudah menggunakan digital. Helllooooo? Harus lebih dari itu. Bisnis Kipan harus bisa mikir secara matang gimana differentiate bisnisnya dari kompetitor. Kalau dulu kompetitor kamu adalah sesama bisnis online, sekarang, kompetitor kamu adalah sesama bisnis online dan semua bisnis offline yang karena omsetnya turun, mereka masuk ke bisnis online. Kamu harus effort kerjanya double, triple kalau perlu.
  2. Bisnis yang mampu untuk berevolusi. Kalau bisnis kamu sebelumnya total offline, harus putar otak sedemikian rupa untuk bisa pake teknologi. Kenapa teknologi? Karena teknologi:
    • bisa diakses kapan aja.
    • tidak mengenal batasan geografis (bisa di mana aja), dengan demikian, jumlah potensial konsumen tidak lagi hanya di sebuah area, tapi sudah bisa di seluruh Nusantara, bahkan dunia.
  3. Contoh industri yang bagus kedepannya:
    • Online streaming (Netflix) – bisa dinikmati di rumah, kapan aja.
    • Online game (maingame.com) – bisa dinikmati di mana aja, kapan aja, via hape, tanpa harus download (ngga makan memori).
    • Online fitness – ngajak orang-orang untuk olah raga dari rumah.
    • Jualan alat-alat olah raga – karena saat ini gym harus tutup, semua orang yg peduli kesehatan tetap mau olah raga di rumahnya. Penjualan treadmil, spinning bike, barbel, yoga mat naik. Ketika pandemi seletai, kemungkinan membership gym akan turun karena lifestylenya berubah, orang-orang sudah biasa untuk olah raga sendiri di rumah meski cuma 10-15 menit/hari. Mereka akan sadar betapa nyamannya olah raga di rumah, ngga usah bersiap-siap, ngga usah macet-macetan untuk ke gym, dst.
    • E-Learning – seminar online (live/taping) dan audio podcast. Keduanya bisa dinikmati di mana aja, kapan aja.
    • Food delivery – restoran bukan lagi mengirimkan makanan matang, tapi juga resep beserta bahan baku dari suatu masakan yang dikemas dan dikirim ke konsumen untuk kemudian mereka sendiri yang masak di rumah.

Saya kasih contoh dari Poin 2 di atas ya.

Young On Top itu selama ini revenuenya terfokus dari sponsorship event yang dilakukan. Untungnya, sejak merayakan YOT 1 dekade di April 2019 lalu, saya sudah bilang bahwa YOT memasuki era baru: YOT2.0, yes, YOT masuk ke digital. Makanya sejak tahun lalu, YOT sudah mulai mendevelop mobile app yang akan digunakan untuk menyatukan seluruh generasi muda di Indonesia, namanya: SocialConnext (akan ada di Playstore dan Appstore).

Sejak pertengahan Maret 2020, semua WFH. Semua event YOT tahun ini: YOT National Conference dan 10 Connext Conference di 10 kota terancam gagal terselenggara. Saya dan tim YOT langsung keluar dengan sebuah ide: “inspira webinar”. Hanya dalam kurun waktu 2 minggu, inspira webinar pertama terlaksana, Per hari ini, sudah 3 inspira webinar yang terlaksana. Karena ini online, maka YOT tidak perlu harus menyewa tempat event, persiapannya pun ngga seheboh event offline. Kalau event offline, per tahun YOT hanya bisa buat sekitar 11 event, dari April hingga Desember 2020, inspira webinar direncanakan untuk diadakan puluhan kali. Sementara banyak perusahaan dan komunitas melakukan hal yang sama, YOT sudah memulai dengan beberapa partner bisnis yang mau mensponsori program baru dari YOT ini. Siapa aja? Saya belum bisa kasih tau, kecuali by.U (Telkomsel) yang sudah mensponsori sejak inspira webinar 18 April kemarin.

Semoga apa yang saya share di sini, bisa bermanfaat. Kini saatnya untuk muter otak supaya kamu ngga cuma survive tapi cemerlang di masa Kipan.

See You ON TOP!
Billy Boen

Twitter: @billyboen | IG: @billyboenYOT | Facebook: @billyboenYOT | Linkedin: Billy Boen

19/4/2020

***Dilarang untuk mengutip keseluruhan maupun sebagian dari BBClubNotes yang saya tulis tanpa ijin tertulis dari saya untuk ditulis/diposting di manapun.